
Aktiva tetap merupakan salah satu jenis aktiva yang digunakan untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan. Setiap tahun aktiva tetap akan mengalami penyusutan. Besarnya beban penyusutan tergantung pada metode yang dipilih. Simak perhitungan setiap metode penyusutan aktiva tetap berikut ini.
Apa itu Penyusutan Aktiva Tetap?
Penyusutan aset tetap merupakan proses perhitungan dan pencatatan penurunan nilai aset tetap dari waktu ke waktu. Aset tetap adalah harta yang dimiliki oleh suatu entitas untuk digunakan dalam operasinya, seperti gedung, peralatan, kendaraan, dan mesin. Nilai aset tetap cenderung menurun seiring berjalannya waktu karena faktor-faktor seperti penggunaan, pemanfaatan, dan usia.
*Rekomendasi: Begini Perhitungan Harga Perolehan Aktiva Tetap
Perhitungan Metode Penyusutan Aktiva Tetap
Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung penyusutan aset tetap. Setiap metode mempengaruhi nilai aktiva tetap yang mengalami penyusutan. Berikut adalah beberapa metode penyusutan yang umum digunakan:
1. Metode Garis Lurus (straight line method)
Metode Penyusutan Garis Lurus adalah salah satu metode penyusutan aktiva tetap yang paling sederhana dan umum digunakan dalam akuntansi. Metode ini mengalokasikan biaya penyusutan secara merata selama masa manfaat aset tetap.
Rumus menghitung besar beban penyusutan menggunakan metode garis lurus:
- Biaya Perolehan: Biaya awal atau nilai perolehan aktiva tetap.
- Nilai Residu: Nilai diperkirakan dari aktiva tetap pada akhir masa manfaatnya.
- Masa Manfaat: Periode waktu di mana aktiva tetap diperkirakan akan memberikan manfaat.
Contoh perhitungan penyusutan metode garis lurus:
Pada awal bulan januari 2008 dibeli sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp100.000.000. Berdasarkan estimasi manajemen aktiva tetap diperkirakan memiliki umur ekonomis selama 5 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp5.000.000 pada akhir tahun ke lima.
Dengan menggunakan rumus di atas, maka besarnya beban penyusutan per tahun dapat ditentukan sebagai berikut:
2. Metode Saldo Penyusutan Saldo Menurun (declining balance method)
Metode Penyusutan Saldo Menurun adalah metode lain yang umum digunakan dalam akuntansi untuk menghitung biaya penyusutan aktiva tetap. Metode ini berbeda dari metode garis lurus karena menghitung jumlah penyusutan sebagai persentase tertentu dari nilai buku aset pada awal setiap periode. Persentase penyusutan ini umumnya lebih tinggi di awal masa manfaat dan berkurang seiring berjalannya waktu. Terdapat beberapa varian metode saldo menurun, seperti:
a. Metode Jumlah Angka Tahun (sum of the years digits method)
Metode Jumlah Angka Tahun adalah salah satu metode penyusutan yang mengakui penurunan nilai aset dengan cara yang berbeda dari metode garis lurus atau saldo menurun. Metode ini memberikan alokasi penyusutan yang lebih tinggi di awal masa manfaat aset, mirip dengan metode saldo menurun, tetapi masih memberikan nilai penyusutan yang lebih stabil dari tahun ke tahun.
Rumus menghitung besar beban penyusutan menggunakan metode jumlah angka tahun:
- Masa Manfaat: Periode waktu di mana aktiva tetap diperkirakan akan memberikan manfaat.
- Biaya Perolehan: Biaya awal atau nilai perolehan dari aktiva tetap.
- Nilai Residu: Nilai yang diharapkan dari aktiva tetap pada akhir masa manfaatnya.
Contoh perhitungan penyusutan jumlah angka tahun:
Pada awal bulan januari 2008 dibeli sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp100.000.000. Berdasarkan estimasi manajemen aktiva tetap diperkirakan memiliki umur ekonomis selama 5 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp5.000.000 pada akhir tahun ke lima.
Dengan menggunakan rumus diatas, maka jumlah angka tahun adalah sebagai berikut:
Berdasarkan jumlah angka tahun, maka besarnya beban penyusutan per tahun dapat ditentukan sebagai berikut:

b. Metode Saldo Menurun Ganda (double declining balance method)
Metode Saldo Menurun Ganda adalah varian dari metode penyusutan saldo menurun yang mengalokasikan biaya penyusutan dalam jumlah yang lebih tinggi di awal masa manfaat aset dan kemudian mengurangi jumlah penyusutan seiring berjalannya waktu. Metode ini memberikan alokasi penyusutan yang lebih cepat di awal masa manfaat aset dan dapat digunakan untuk mengakui penurunan nilai aset yang lebih cepat dalam situasi tertentu.
3. Metode Jam Jasa (service hours method)
Metode Jam Jasa adalah metode yang digunakan untuk menghitung penyusutan berdasarkan penggunaan aktual atau jam kerja dari aktiva tetap. Metode ini umumnya digunakan untuk menghitung penyusutan pada aktiva tetap yang memiliki keterbatasan penggunaan dalam jam atau satuan waktu tertentu.
Rumus menghitung besar beban penyusutan menggunakan metode jam jasa:
- Jam Jasa: Jumlah waktu di mana aktiva tetap diperkirakan akan memberikan manfaat.
- Biaya Perolehan: Biaya awal atau nilai perolehan dari aktiva tetap.
- Nilai Residu: Nilai yang diharapkan dari aktiva tetap pada akhir masa manfaatnya.
Contoh perhitungan penyusutan jam jasa:
Pada awal bulan januari 2008 dibeli sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp100.000.000. Berdasarkan estimasi manajemen aktiva tetap diperkirakan dapat beroperasi selama 25 jam dengan nilai sisa sebesar Rp5.000.000.
Dengan menggunakan rumus di atas, maka besarnya beban penyusutan untuk setiap jam pemakaiannya dapat ditentukan sebagai berikut:
4. Metode Unit Produksi (productive output method)
Metode Unit Produksi adalah metode penyusutan yang menghitung biaya penyusutan berdasarkan unit produksi aktual atau unit penggunaan aktiva tetap. Metode ini umumnya digunakan untuk aset tetap yang mengalami penurunan nilai seiring dengan penggunaan aktualnya, seperti mesin produksi atau kendaraan yang digunakan dalam operasi harian.
Rumus menghitung besar beban penyusutan menggunakan metode unit produksi:
- Unit Produksi: Jumlah unit yang dapat diproduksi oleh aktiva tetap.
- Biaya Perolehan: Biaya awal atau nilai perolehan dari aktiva tetap.
- Nilai Residu: Nilai yang diharapkan dari aktiva tetap pada akhir masa manfaatnya.
Contoh perhitungan penyusutan unit produksi:
Pada awal bulan januari 2008 dibeli sebuah aktiva tetap dengan harga perolehan sebesar Rp100.000.000. Berdasarkan estimasi manajemen aktiva tetap diperkirakan dapat digunakan untuk memproduksi sebanyak 25.000 unit dengan nilai sisa sebesar Rp5.000.000.
Dengan menggunakan rumus di atas, maka besarnya beban penyusutan untuk setiap unit produksinya dapat ditentukan sebagai berikut:
Penutup
Nah, itu dia 5 perhitungan metode penyusutan aktiva tetap yang dapat saya bagikan. Pemilihan metode penyusutan harus mempertimbangkan sifat aset tetap, estimasi masa manfaat, nilai residu, dan kebijakan perusahaan. Namun, metode penyusutan yang paling umum digunakan adalah metode garis lurus karena kesederhanaannya dan kemudahan dalam pemahaman dan perhitungan.
Akhir kata, saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca sampai akhir. Semoga pembahasan kali ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan. Sampai jumpa lagi di artikel-artikel lainnya.
*Baca Juga:
- Jenis Aktiva Tetap Dalam Akuntansi
- Cara Menghitung Aktiva Lancar Suatu Perusahaan
- Jenis Aktiva Lancar Dalam Akuntansi
- Komponen Laporan Keuangan, Ini Penjelasannya
- Perbedaan Aktiva Lancar dan Aktiva Tetap





